ACEH

Multaqa’ Ulama Aceh Barat Perkuat Sinergi Ulama dan Tokoh Masyarakat

ACEH BARAT – Islam Selamatkan Negeri menggelar kegiatan Multaqa’ Ulama Aceh Barat di salah satu hotel di Aceh Barat, Selasa (14/4/2026). Kegiatan ini dihadiri ratusan ulama dan tokoh masyarakat yang terdiri atas ustaz, ustazah, mubaligh, dan mubalighah.

Ketua panitia, Hasanuddin Husin, S.P., M.Sc., mengatakan kegiatan tersebut mengangkat tema “Sinergi Ulama dan Tokoh Masyarakat dalam Membangun Semangat Menegakkan Syariat Islam secara Kaffah.”

Menurut Hasanuddin, tema itu dipilih karena ulama dan tokoh masyarakat memiliki peran yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun kehidupan Islam di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan, sinergi ulama dan tokoh masyarakat menjadi kunci dalam menumbuhkan semangat menegakkan dan menghadirkan kembali syariat Islam dalam kehidupan umat, khususnya di Aceh Barat yang memiliki kekhususan dalam penerapan syariat Islam.

Hasanuddin juga menegaskan bahwa penerapan syariat Islam tidak cukup dilakukan secara parsial, tetapi harus dijalankan secara kaffah atau menyeluruh. Hal itu, katanya, sejalan dengan Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang mengatur penerapan syariat Islam tidak hanya pada aspek akidah dan ibadah, tetapi juga mencakup muamalah, pendidikan, serta berbagai dimensi kehidupan lainnya.

Dalam kegiatan itu, Tgk. Yasri Muhammad Zahid tampil sebagai keynote speaker. Dalam paparannya, ia mengajak peserta merenungi hakikat penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Menurutnya, sebelum manusia diciptakan, Allah Swt. telah memberitahukan kepada para malaikat tentang rencana-Nya menjadikan khalifah di bumi. Hal itu menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

“Tugas sebagai khalifah bukan sekadar istilah, melainkan sebuah proyek besar dari Allah Swt. yang mengandung amanah luar biasa,” ujarnya.

Tgk. Yasri juga menyinggung kekhawatiran malaikat terhadap potensi manusia yang dapat melakukan kerusakan dan pertumpahan darah. Namun, menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari hikmah penciptaan manusia. Di balik potensi kerusakan, manusia juga memiliki potensi besar untuk menjalankan amanah dengan baik melalui ilmu, iman, dan ketaatan.

Ia menegaskan, keunggulan manusia di sisi Allah Swt. terletak pada ilmu yang dianugerahkan, sebagaimana yang diberikan kepada Nabi Adam a.s. Karena itu, manusia memiliki kedudukan istimewa sekaligus tanggung jawab besar dalam menjalankan amanah kekhalifahan.

Di akhir penyampaiannya, Tgk. Yasri mengajak seluruh peserta mengambil pelajaran dari kisah tersebut. Ia menekankan bahwa setiap manusia memiliki peluang menjadi khalifah yang berhasil maupun gagal dalam menjalankan amanah. Para nabi serta sahabat Rasulullah saw., seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali r.a., disebut sebagai teladan dalam menunaikan amanah kepemimpinan dengan penuh ketakwaan.

Sementara itu, KH. Yasin Muthohar selaku pemateri menyoroti berbagai persoalan umat Islam, baik dalam konteks lokal, nasional, maupun global. Ia mengawali materinya dengan menyinggung berbagai bencana yang terjadi di Aceh.

Menurutnya, setiap musibah harus dipandang sebagai ujian dari Allah Swt. yang mengandung hikmah dan pelajaran bagi umat manusia. Karena itu, masyarakat diajak tidak hanya melihat bencana dari sisi kesedihan semata, tetapi juga menjadikannya sebagai momentum muhasabah agar dapat mengambil pelajaran berharga di balik setiap peristiwa.

Selain bencana alam, KH. Yasin juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai bencana agama, yakni kondisi ketika umat Islam tidak lagi memiliki kepekaan dan dorongan kuat untuk menolong saudara-saudara sesama Muslim yang tertindas, termasuk rakyat Palestina.

Ia juga menyinggung situasi geopolitik dunia Islam dengan menyebut adanya negara Muslim seperti Iran yang berani mengambil sikap melawan Amerika Serikat dan Israel. Namun, menurutnya, banyak penguasa Muslim di negeri-negeri lain justru memilih diam dan belum menunjukkan langkah nyata dalam membela kepentingan umat Islam.

Lebih lanjut, KH. Yasin menegaskan bahwa bencana agama juga terjadi ketika umat Islam meninggalkan syariat dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, penerapan syariat Islam dalam kehidupan bernegara hingga kini belum berjalan secara kaffah atau menyeluruh karena sistem kepemimpinan Islam belum terwujud secara utuh.

Ia juga menegaskan bahwa kewajiban menghadirkan kepemimpinan Islam telah banyak disampaikan oleh para ulama dari berbagai mazhab. Menurutnya, para ulama bersepakat bahwa mewujudkan kepemimpinan yang mengatur urusan umat merupakan perkara yang hukumnya wajib.

Pandangan tersebut, katanya, antara lain merujuk pada ijmak sahabat, yakni kesepakatan para sahabat Nabi Muhammad saw. yang terlebih dahulu memusyawarahkan dan menetapkan pemimpin pengganti Rasulullah saw. sebelum menunaikan pengurusan dan pemakaman jenazah beliau.

Dalam sesi diskusi, KH. Yasin juga menyoroti pentingnya peran kepemimpinan dalam menjaga umat dari berbagai ancaman yang membahayakan akidah dan kehidupan.

“Ancaman media dan pengaruh budaya tidak bisa dihilangkan kecuali dengan peran kekuasaan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa membiarkan sistem yang tidak bersumber dari ajaran Allah Swt. merupakan sebuah kekeliruan. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali kepada aturan Allah Swt. sebagai pedoman hidup serta menjauhi praktik kehidupan yang bertumpu pada hukum jahiliah.

Kegiatan Multaqa’ Ulama Aceh Barat ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi dan komitmen bersama antara ulama dan tokoh masyarakat untuk menegakkan syariat Islam secara kaffah di tengah kehidupan masyarakat.

Acara diakhiri dengan kesepakatan para ulama mengenai urgensi memperjuangkan penerapan nilai-nilai Islam secara menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, serta ditutup dengan doa bersama.(rill)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.